AI Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru, Indonesia Catat Adopsi Tertinggi di ASEAN
Menteri Airlangga Hartarto menyebut kecerdasan buatan (AI) sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru, dengan Indonesia mencatat adopsi tertinggi di ASEAN dan investasi US$ 91 juta.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus mencuri perhatian setelah pemerintah mencatat lonjakan adopsi yang signifikan. Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia bukan hanya mengikuti tren global, tetapi sudah menjadi negara dengan pertumbuhan adopsi AI tertinggi di kawasan Asia Tenggara, dengan angka pertumbuhan mencapai 127% dan investasi masuk sebesar US$ 91 juta atau sekitar Rp 1,52 triliun di semester pertama 2025.
Airlangga menekankan bahwa AI bukan sekadar teknologi baru, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi baru yang mampu mendorong produktivitas dan daya saing nasional. Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa nilai pasar teknologi AI di Indonesia diproyeksikan terus meningkat seiring dengan perkembangan ekosistem digital yang didukung oleh investasi, kolaborasi sektor publik-swasta, dan infrastruktur digital yang lebih kuat.
Pertumbuhan adopsi AI di Indonesia ini juga tercermin dalam tingginya minat dan penggunaan teknologi berbasis AI oleh masyarakat. Banyak platform digital, aplikasi produktivitas, hingga layanan online yang kini memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna â mulai dari fitur pencarian cerdas, rekomendasi konten yang personal, hingga chatbot layanan pelanggan. Hasil survei menunjukkan bahwa puluhan persen warga Indonesia telah menggunakan fitur berbasis AI dalam aktivitas sehari-hari, menunjukkan antusiasme yang kuat terhadap teknologi ini di masyarakat.
Manfaat AI sudah bisa dirasakan dalam berbagai sektor kehidupan. Misalnya di pemerintahan digital, layanan publik kini makin cepat dan responsif dengan bantuan AI untuk memproses data, mengotomatisasi tugas administratif, serta meningkatkan keakuratan layanan data kependudukan atau kesehatan. Di sektor bisnis dan UMKM, teknologi AI membantu pelaku usaha memperluas jangkauan pasar melalui analisis tren konsumen, automasi pemasaran, dan pengelolaan inventaris yang lebih efisien. Banyak startup serta perusahaan besar juga menghadirkan solusi berbasis AI yang membantu pengembangan produk dan layanan lebih cepat serta hemat biaya.
Di sektor pelayanan publik, AI juga berkontribusi dalam sistem kesehatan digital, misalnya membantu diagnosa awal melalui algoritma, mempercepat proses klaim asuransi, dan mempercepat respon layanan informasi kesehatan yang diakses melalui aplikasi oleh masyarakat.
Airlangga mengatakan pemerintah tengah memperkuat ekosistem AI dengan berbagai langkah strategis, seperti percepatan pembangunan AI Data Center di Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa, mendorong pengembangan gig economy berbasis digital di lebih banyak kota, serta memperluas akses digital melalui teknologi satelit. Langkah ini diharapkan tidak hanya mempercepat adopsi teknologi, tetapi juga menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru yang terkait dengan AI dan digitalisasi.
Meski antusiasme adopsi tinggi, tantangan tetap ada, terutama terkait kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Tidak semua perusahaan sudah siap menggunakan AI secara optimal, dan masih diperlukan upaya besar dalam pelatihan keterampilan digital untuk tenaga kerja agar mampu memanfaatkan teknologi ini secara maksimal.
Dengan data dan tren yang terus meningkat, posisi Indonesia sebagai salah satu pemimpin dalam ekosistem AI di Asia Tenggara bisa menjadi fondasi kuat untuk percepatan transformasi ekonomi digital nasional. Pemerintah menyatakan komitmennya untuk tetap mendorong inovasi, menarik investasi, dan memastikan manfaat teknologi AI dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di berbagai lapisan ekonomi.





